Trotoar
Jalan yang menghubungkan dua kota itu cukup ramai dengan kendaraan yang berlalu-lalang. Mobil-mobil yang melaju cukup menyibukkan polisi lalu lintas yang mengatur jalannya mobil tersebut. etiap mobil yang melaju harus sabar jika terjadi kemacetan. Sesak dan asap knalpot membuat udara di sekitar jalan tersebut tercemar. Di sudut jalan tersebut, terdapat trotoar yang digunakan pejalan kaki. Namun, kini trotoar tersebut tertutupi oleh warung-warung yang tidak memiliki perizinan dari pemerintah setempat. Pedagang asongan hingga pengemis pun menggunakan trotoar tersebut untuk mencari nafkah. Trotoar terasa ramai dengan itu semua.
Dwi seorang anak yang berumur belasan tahun dengan dagangan yang ia jajakan kepada pejalan kaki yang lewat. Tampak wajahnya sayu dan tubuh kurusnya yang kurang makan. Ia begitu pucat dan lemas. Sudah seminggu dua hari ia belum makan apa-apa. Apalagi di rumah, ibu sertaadik-adiknya menunggu dengan harapan akan ada makanan di rumah. Namun, kenyataan Dwi masih belum pulang. Dagangannya belum ada yang laku terjual. Hanya korek api saja yang terjual satu dengan harga Rp 500,- dibeli oleh seorang sopir angkot yang lewat. Itu pun masih hutang. Hutang? Di zaman yang semakin modern masih saja ada orang yang hutang dengan korek api seharga lima ratus? Sungguh aneh bin ajaib.
Dwi terus menjajakan dagangannya dengan suara yang makin pilu. Setiap orang hanya sibuk dengan pekerjaan mereka tanpa peduli dengan pedagang asongan cilik yang sangat memprihatinkan itu. Trotoar yang menjadi saksi bisu terhadap Dwi yang terus menjajakan dagangannya. Dwi mengingat masa lalunya yang dulu tidak kelaparan seperti sekarang ini. Ayahnya dulu seorang pengusaha sukses dengan kayu jati sebagai barang komoditi yang di ekspor ke luar negeri. Namun, sejak polisi menangkap ayahnya, karena usaha yang ia miliki tidak ada surat-surat perizinan dari pemerintah untuk memasok dan mengekspor kayu jati yang dijualnya. Akibatnya usaha ayah Dwi mengalami gulung tikar dan menyebabkan hutang-hutang kepada keluarganya serta kekayaannya disita untuk menanggung semua hutang-hutangnya.
Tiba-tiba lamunannya lenyap ketika mobil dari arah Utara berhenti tepat di sampingnya berdiri. ..... (Bersambung)